Selamet Dateng di Web nya BiLLy,, yang Enjoy ya Baca nya !! Hehehehe

20 Januari 2009

Tahun Tersibuk Eropa di Antariksa


Perayaan Tahun Astronomi Internasional 2009 ditandai dengan peluncuran sejumlah proyek.

PARIS -- Lalu lintas Bumi-antariksa tahun ini akan diramaikan dengan peluncuran sejumlah roket milik badan antariksa Eropa, ESA. Dua teleskop orbital dan tiga satelit baru akan diluncurkan ke antariksa untuk memeriahkan Tahun Astronomi Internasional 2009 (IYA 2009).

Salah satu teleskop yang akan diluncurkan adalah Observatorium Antariksa Herschel, yang didesain untuk menangkap radiasi dengan panjang gelombang jauh dari sejumlah obyek terjauh di antariksa. Teleskop ini memiliki cermin berdiameter 3,5 meter, cermin terbesar yang pernah dibuat untuk sebuah teleskop antariksa.

Herschel akan diluncurkan pada 12 April mendatang bersama dengan Observatorium Planck. Teleskop ini akan mempelajari kondisi alam semesta beberapa saat setelah Big Bang terjadi.

Peluncuran Herschel dan Planck akan diikuti tiga satelit pemantau Bumi. Satelit GOCE khusus mempelajari medan gravitasi Bumi, Smos akan mengamati kelembapan tanah, sedangkan Cryosat-2 akan melakukan investigasi terhadap lapisan es dan salju.

Dua modul Eropa juga akan ditambahkan ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS). Modul tambahan ini disebut Node 3, dan satu unit kabin berjendela khusus untuk melakukan observasi. Peluncuran perdana roket Vega dan Soyuz juga akan dilakukan pada akhir tahun ini. "Tahun 2009 akan sangat berharga dan kaya," kata Direktur Jenderal ESA Jean-Jacques Dordain, pekan lalu.

Dalam upacara peresmian Tahun Astronomi Internasional 2009 di Paris pada 15-16 Januari lalu, astronom dari 136 negara berkumpul dalam hajatan besar itu untuk mendorong minat untuk mengamati langit dan alam semesta lewat ratusan acara. Ini memang pesta besar bagi ESA, karena tahun astronomi internasional ini didedikasikan bagi Galileo Galilei, astronom kelahiran Italia.

Perayaan ini memang mengandung makna historis yang dalam, karena 399 tahun yang lalu Galileo telah menyempurnakan teleskop astronominya dan mengarahkan instrumen barunya itu ke langit. Ketika mengobservasi planet Jupiter, yang saat itu merupakan benda langit yang misterius, Galileo menemukan tiga titik cahaya lemah di sekitar Jupiter. Selama beberapa bulan berikutnya, dengan sistematis Galileo mengobservasi Jupiter dan titik-titik cahaya itu, tetapi dia justru menemukan titik cahaya keempat. Semua titik cahaya itu bergerak mengitari Jupiter.

Terungkap bahwa titik cahaya itu adalah keempat bulan Jupiter. Dengan teleskop buatan sendiri itu Galileo menemukan bulan pertama yang mengelilingi planet selain Bumi. Bulan Jupiter, yang dinamai Io, Europa, Ganymede, dan Callisto, disebut sebagai Satelit Galilean untuk menghormati penemunya.

Peristiwa penting inilah yang diperingati masyarakat astronom dalam IYA 2009, hampir 400 tahun kemudian. Namun, yang lebih penting, penemuan keempat bulan pengorbit Jupiter oleh Galileo ini menggeser pandangan umum yang diterima sebelumnya bahwa Bumi adalah pusat alam semesta. Observasi terhadap bulan Galilean ini digunakan untuk mendukung teori Copernicus bahwa pusat alam semesta adalah matahari, yang kebenarannya jauh lebih dekat.

Inisiatif untuk menggelar Tahun Astronomi Internasional 2009 ini diprakarsai oleh International Astronomical Union dan UNESCO, organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Teleskop, instrumen yang membantu Galileo menemukan bulan Jupiter, telah memperluas horizon umat manusia sampai hari ini.

Kini teleskop di Bumi maupun di antariksa terus-menerus mengeksplorasi alam semesta, 24 jam sehari, menyeberangi semua panjang gelombang cahaya. "Tahun Astronomi Internasional 2009 memberi peluang bagi semua negara untuk berpartisipasi dalam revolusi teknologi dan ilmiah yang terjadi sekarang ini," kata Presiden International Astronomical Union (IAU) Catherine Cesarsky. "Kami mengalami kehidupan yang menarik, dan kami ingin orang lain ikut mengalaminya."

"Orang selalu melihat ke langit untuk mencari jawaban 'bagaimana kita ada di sini?' dan 'mengapa kita ada di sini?'" kata Koichiro Matsuura, Direktur Jenderal UNESCO. "Langit milik semua orang."

Salah satu proyek dalam pesta setahun penuh ini adalah "100 Jam Astronomi”. Kegiatan yang digelar pada 2-5 April ini bertujuan mengajak sebanyak mungkin orang mengintip dan mengobservasi bintang serta planet lewat teleskop. Para astronom juga mempopulerkan perkakas yang disebut "Galileoscope", teleskop gratis dan mudah dirangkai dan dapat didistribusikan secara luas.

Selain gerhana matahari cincin yang akan berlangsung di atas Indonesia pada 26 Januari nanti, IYA 2009 akan ditandai dengan fenomena gerhana matahari total pada 22 Juli di atas Nepal, Bangladesh, Bhutan, Burma, dan Cina. TJANDRA DEWI | AP | AFP | ASTRONOMY 2009 | ESA | IAU

Hajatan Besar ESA

Untuk memperingati Tahun Astronomi Internasional 2009, badan antariksa Eropa, ESA, menggelar sejumlah proyek, termasuk meluncurkan dua teleskop orbital untuk memindai kedalaman antariksa. ESA juga meluncurkan tiga satelit untuk mengumpulkan data tentang es, tanah, dan gravitasi di bumi. Peluncuran perdana roket Vega dan Soyuz dari Kourou, Guyana Prancis, juga akan dilakukan sebagai bagian dari program senilai Rp 14,6 triliun ini.

Observatorium Antariksa Herschel:

Teleskop ini akan mengobservasi alam semesta pada panjang gelombang inframerah jauh, memungkinkannya untuk melihat menembus debu yang terjadi di fase awal formasi pembentukan planet dan bintang.

Planck:

Teleskop ini akan mempelajari latar belakang radiasi gelombang mikro kosmis yang membawa informasi tentang struktur pertama di alam semesta.

Soyuz:

Roket Rusia ini dapat meningkatkan kapasitasnya berkat jarak Kourou yang dekat dengan Khatulistiwa. Pada 2010, rencananya Soyuz mulai meluncurkan satelit Galileo.

Vega:

Dirancang untuk meluncurkan muatan yang kecil. Vega adalah bagian dari kebijakan Eropa untuk menjamin akses ke antariksa.

GOCE:

Satelit ini bertugas mengukur medan gravitasi bumi, mengungkap detail baru tentang perilaku samudra.

Cryosat-2:

Satelit ini akan memonitor ketebalan es, baik di atas daratan maupun laut, untuk memberikan bukti konklusif tentang laju penurunan lapisan es tersebut

Smos:

Satelit ini akan mengobservasi kelembapan daratan dan salinitas air laut untuk memperbaiki pemahaman tentang siklus air dan pola sirkulasi samudra planet. GRAPHICNEWS

Trio Satelit ESA

GOCE

Satelit Gravity Field and Steady State Ocean Circulation Explorer (GOCE) dikembangkan untuk membantu para astronom memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang salah satu kekuatan alami Bumi yang paling fundamental, yaitu medan gravitasi.

Satelit canggih ini dijuluki sebagai wahana “Formula 1” karena memiliki desain dan beragam teknologi antariksa terbaru untuk memetakan medan gravitasi Bumi dengan mendetail. Data yang diperoleh GOCE diharapkan dapat berguna untuk mempelajari oseanografi, fisika Bumi, sampai riset kelautan dan geodesi yang pada akhirnya membantu para ilmuwan memahami perubahan iklim.

Meski tak terlihat, gravitasi adalah kekuatan alam yang kompleks yang mempunyai dampak amat besar bagi kehidupan manusia sehari-hari. Sering diasumsikan bahwa kekuatan gravitasi di permukaan Bumi memiliki nilai konstan, namun pada kenyataannya nilai “g” sangat bervariasi antara tempat satu dan yang lain. Variasi ini terjadi karena beberapa faktor, semisal rotasi bumi, posisi pegunungan dan palung laut, serta variasi densitas bumi.

Selama 20 bulan, GOCE akan memetakan variasi medan gravitasi global itu dengan akurasi dan detail tajam. Pemetaan ini akan menghasilkan model geoid unik, yang amat penting untuk mengukur sirkulasi samudra dan perubahan muka laut, dua hal yang dipengaruhi oleh perubahan iklim.

Misi Cryosat-2

Satelit ini akan menyediakan jawaban atas pertanyaan apakah perubahan iklim global menyebabkan lapisan es kutub menyusut, karena Cryosat-2 akan memantau perubahan ketebalan lapisan es kutub dan es yang mengapung di laut dengan keakuratan tinggi.

Satelit ini akan memantau Bumi dari ketinggian di atas 700 km pada garis lintang 88 derajat. Observasi yang dilakukan selama tiga tahun ini akan menghasilkan bukti konklusif tentang laju menghilangnya lapisan es, baik es daratan yang tebalnya sampai beberapa kilometer sampai lapisan es laut yang tipis, hanya beberapa meter.

Untuk mengukur es dengan akurat, Cryosat-2 dilengkapi dengan radar altimeter canggih yang disebut SIRAL (Synthetic Aperture Interferometric Radar Altimeter). Radar ini adalah pengembangan dari instrumen sebelumnya, namun dirancang dengan berbagai perombakan untuk mengatasi kesulitan mengukur permukaan es.

Misi Air SMOS (Soil Moisture and Ocean Salinity)

Satelit ESA ini khusus dirancang untuk mengobservasi kelembapan tanah di atas permukaan tanah dan salinitas samudra. Data kelembapan tanah diperlukan untuk studi hidrologis, sedangkan data salinitas samudra amat vital untuk memahami pola sirkulasi laut.

Data yang dihasilkan misi ini akan memberi pengetahuan tentang siklus air Bumi dan membantu para ilmuwan membuat prediksi cuaca serta iklim yang lebih baik. SMOS juga akan melakukan observasi di atas kawasan salju dan es, untuk memberikan data tambahan bagi studi cryosphere. ESA | astronomy2009



0 komentar:

Posting Komentar

Jagalah perkataan anda,,
Karena sesungguhnya orang itu,,
di lihat dari perkataan nya juga